UAS komunikasi sem 2
SOAL UAS KOMUNIKASI: Ayat Al-Qur’an atau Hadis yang Berkaitan dengan Komunikasi.
A. Hadis serta Terjemahannya
Hadis:" كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ"
Terjemahan:"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam."(Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan Shahih Bukhari)
B. Tafsir Hadis
Hadis ini mengajarkan prinsip dasar dalam etika komunikasi, yakni agar setiap individu senantiasa berhati-hati dalam setiap perkataan yang diucapkan. Tafsir lebih mendalam dapat dijabarkan sebagai berikut:Landasan Iman dan Akhlak:Pernyataan "beriman kepada Allah dan hari akhir" menunjukkan bahwa iman yang sesungguhnya tidak hanya tercermin dalam ritual ibadah, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Ucapan yang tidak membawa kebaikan dianggap tidak sejalan dengan keimanan yang benar.
Kewajiban Mengedepankan Kebaikan:Perintah untuk "berkata yang baik" menekankan bahwa setiap ungkapan haruslah bermanfaat, mendidik, dan tidak menimbulkan mudarat. Komunikasi yang membangun akan memupuk rasa empati, kepercayaan, dan keharmonisan antar sesama.
Keutamaan Diam:Alternatif "atau diam" menyiratkan bahwa apabila seseorang tidak mempunyai kata-kata yang positif dan konstruktif, lebih baik untuk memilih untuk tidak berbicara. Hal ini berkaitan dengan prinsip "silence is golden" yang sering dianjurkan dalam berbagai budaya, bahwa diam dapat menghindarkan dari perkataan yang dapat menyakiti hati orang lain atau menimbulkan fitnah.
Pengendalian Diri dan Kepedulian Sosial:Hadis tersebut juga mengajarkan tentang pengendalian diri dalam berkomunikasi. Seringkali, emosi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan ucapan yang menyakitkan atau menimbulkan konflik. Dengan menyaring kata-kata melalui lensa kebaikan, seseorang dapat mencegah konflik dan menjaga hubungan sosial agar tetap harmonis.
C. Kisah Hikmah dan Relevansinya dalam Kehidupan Sehari-hari
Di zaman modern ini, tantangan dalam komunikasi sangat beragam. Misalnya, dalam situasi konflik di media sosial atau di lingkungan kerja, seringkali kata-kata yang diucapkan tanpa pertimbangan dapat memicu perpecahan dan menimbulkan kerugian emosional. Berikut adalah salah satu kisah hikmah yang menggambarkan relevansi hadis ini:Kisah Hikmah: "Diam yang Menyelamatkan Persahabatan"
Di sebuah kantor, terdapat dua rekan kerja yang sebelumnya memiliki hubungan baik. Suatu hari, terjadi salah paham akibat komentar yang salah di sampaikan melalui pesan instan. Salah satu dari mereka, karena marah, mengirimkan beberapa pesan yang bernada kasar dan menyudutkan.
Tanggapan tersebut justru memicu kebingungan dan perpecahan di antara rekan-rekan lainnya.Menyadari situasi yang semakin memburuk, seorang senior di kantor kemudian mengingatkan kedua belah pihak dengan nasihat yang sangat mirip dengan pesan hadis tersebut: "Jika kamu tidak memiliki kata yang membangun, lebih baik diam."
Senior tersebut pun mengajak mereka untuk duduk bersama, mendengarkan satu sama lain, dan membicarakan masalah dengan hati-hati. Perlahan, dengan pengendalian diri dan kesadaran akan pentingnya berkata baik, kedua rekan kerja itu berhasil memperbaiki hubungan dan mengembalikan keharmonisan di lingkungan kerja.Pelajaran yang Dapat Diambil:Kesadaran Diri: Seseorang harus selalu menyadari dampak dari setiap kata yang diucapkan.
Dalam situasi panas sekalipun, menghitung kata yang baik bisa mencegah terjadinya konflik.Kontrol Emosi: Dengan menerapkan prinsip "berkata yang baik atau diam", kita bisa menjaga hubungan personal dan profesional.
Hal ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab atas ucapan tidak hanya mempengaruhi kita sendiri, tetapi juga orang-orang di sekitar kita.Peran Komunikasi yang Membangun: Komunikasi yang baik bukan hanya soal bertukar informasi, melainkan juga merupakan sarana untuk menyebarkan kebaikan, mendorong kerja sama, dan menguatkan ikatan sosial.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan sehari-hari—baik dalam hubungan pribadi, keluarga, maupun lingkungan kerja—komunikasi yang cermat dan penuh pertimbangan tidak hanya memelihara hubungan baik tetapi juga menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang bersama.Secara keseluruhan, hadis "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam" mengandung pesan mendalam tentang betapa pentingnya komunikasi yang positif. Ini adalah pedoman etis yang mengingatkan setiap individu untuk selalu merenungi apa yang hendak diucapkan, sehingga tidak hanya menghindari kesalahan tetapi juga membawa kebaikan bagi semua orang.
Daftar referensi
Al-Bukhari, M. I. (n.d.). Shahih al-Bukhari. Kitab al-Adab, Hadis No. 6018.
Muslim, I. H. (n.d.). Shahih Muslim. Kitab al-Iman, Hadis No. 47.
Al-Ghazali, A. H. M. (2005). Ihya’ ‘Ulumuddin (Vol. 3). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
Zuhaili, W. (2003). Tafsir al-Munir: Tafsir atas al-Qur’an al-Karim. Jakarta: Gema Insani.
Quraish Shihab, M. (2002). Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
Alwi, H. (2020). Etika Komunikasi dalam Islam. Yogyakarta: Deepublish.
Yusuf, M. (2019). Komunikasi dalam Perspektif Islam. Jakarta: Kencana.
Profil penulis
Salwa Rahadatul Aisyi adalah seorang mahasiswi yang memiliki minat besar dalam bidang pendidikan dan komunikasi Islam. Ia aktif dalam kegiatan akademik dan organisasi, serta gemar berbagi ilmu kepada adik-adiknya di rumah sebagai bagian dari panggilan hati untuk menjadi seorang pendidik.Salwa tengah menempuh pendidikan pada jenjang sarjana (S1) dan dikenal sebagai pribadi yang tekun, komunikatif, dan memiliki semangat tinggi dalam mempelajari ilmu-ilmu keislaman, terutama hadis, tafsir, dan filsafat Islam. Dalam setiap karya tulisnya, Salwa selalu berusaha menyajikan pemikiran yang kritis, relevan dengan kehidupan sehari-hari, serta menjunjung nilai-nilai etika dan akhlak Islam.Selain aktif dalam dunia akademik, Salwa juga memiliki hobi memasak dan senang menciptakan suasana belajar yang menyenangkan baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Harapannya, ilmu yang ia pelajari dapat bermanfaat luas bagi masyarakat dan menjadi jalan untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan Islam di masa depan.

