UTS ILMU KOMUNIKASI (1) SEM II

 

Nomor 1



   Dalam kehidupan sehari-hari, komunikasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas manusia. Saya memahami komunikasi sebagai suatu proses yang dinamis karena ia selalu berubah dan berkembang seiring dengan waktu, teknologi, serta kebutuhan sosial. Sebagai contoh, dulu saya lebih sering berkomunikasi secara langsung ketika bertemu dengan teman, namun kini saya lebih banyak menggunakan aplikasi pesan singkat dan media sosial seperti WhatsApp atau Instagram. Perubahan ini menggambarkan bagaimana komunikasi menyesuaikan diri dengan konteks sosial dan perkembangan teknologi. Seperti yang dikemukakan oleh Littlejohn dan Foss, dinamika komunikasi terjadi karena komunikasi tidak pernah berlangsung dalam ruang yang hampa, melainkan selalu berada dalam pengaruh lingkungan dan interaksi yang berubah secara terus-menerus (Littlejohn & Foss, Theories of Human Communication, 2011). Saya juga merasakannya ketika mengikuti perkuliahan daring selama pandemi. Proses komunikasi tidak lagi melibatkan kontak fisik, melainkan harus menyesuaikan dengan keterbatasan layar dan sinyal. Keadaan ini menuntut kemampuan baru dalam membaca ekspresi wajah melalui kamera, memahami jeda bicara melalui audio digital, dan menginterpretasikan makna melalui simbol-simbol emoji atau tanda baca. Maka, saya menyadari bahwa komunikasi tidak bersifat kaku, melainkan sebuah proses yang lentur dan adaptif, tergantung bagaimana manusia menyesuaikan cara bertukar pesan dengan situasi yang terus berubah.

   Komunikasi juga merupakan sebuah sistem yang saling berkaitan, terdiri dari elemen-elemen seperti pengirim, pesan, saluran, penerima, dan umpan balik. Keterhubungan antar-elemen ini sangat menentukan keberhasilan komunikasi. Saya menyadarinya ketika aktif di organisasi kampus, terutama saat mengoordinasi acara bersama tim. Ketika satu bagian dari sistem, misalnya umpan balik, tidak berjalan dengan baik, maka seluruh proses komunikasi bisa terganggu. Misalnya, dalam satu rapat, ketua tim menyampaikan pesan melalui grup chat, tetapi karena tidak ada konfirmasi dari anggota lain, akhirnya terjadi miskomunikasi terkait waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan. Ini menguatkan pemahaman saya bahwa komunikasi adalah sistem kompleks yang bersifat transaksional, di mana setiap komponen saling memengaruhi satu sama lain (Barnlund, dalam Foundations of Communication Theory, 1970). Dalam sistem ini, tidak ada satu elemen pun yang bekerja sendiri, semua saling terhubung. Maka dari itu, efektivitas komunikasi sangat tergantung pada keterlibatan aktif dari seluruh pihak, keselarasan dalam penyampaian pesan, dan kepekaan terhadap konteks sosial. Dalam kehidupan sosial saya, saya belajar bahwa membangun komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada apa yang disampaikan, tetapi bagaimana sistem itu bekerja secara harmonis.

   Selain bersifat dinamis dan sistematik, komunikasi juga merupakan proses simbolik, artinya makna dibentuk dan ditafsirkan melalui simbol—baik verbal maupun nonverbal. Penggunaan simbol ini sangat menentukan bagaimana pesan diterima dan dipahami oleh orang lain. Dalam pengalaman saya menjadi moderator diskusi kelas, saya menyadari bahwa pemilihan kata, intonasi suara, dan ekspresi wajah berkontribusi besar dalam menciptakan makna. Jika saya menggunakan nada yang datar dan minim gerakan, audiens tampak kurang antusias. Namun ketika saya menambahkan senyuman, gestur tangan, dan intonasi yang variatif, suasana diskusi menjadi lebih hidup. Hal ini menunjukkan bahwa simbol nonverbal memiliki kekuatan untuk memperkuat pesan verbal. George Herbert Mead menyatakan bahwa manusia membentuk makna melalui proses interaksi simbolik yang disepakati dalam budaya dan masyarakat (Mead, Mind, Self, and Society, 1934). Dalam komunikasi digital pun simbol-simbol ini tetap hadir, misalnya dengan penggunaan emoji, huruf kapital, atau tanda seru yang memberi nuansa emosional dalam teks. Contoh kecil seperti menulis “OKE!!” bisa diartikan sebagai semangat atau bahkan marah tergantung konteks dan relasi antarpenutur. Maka dari itu, dalam berbagai interaksi, baik pribadi maupun profesional, saya belajar bahwa memahami simbol dan konteks penggunaannya sangat penting untuk membangun pemahaman yang tepat dan menghindari salah tafsir.


Daftar Pustaka

Barnlund, D. C. (1970). A transactional model of communication. In K. K. Sereno & C. D. Mortensen (Eds.), Foundations of communication theory (pp. 83–102). Harper & Row.

Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2011). Theories of human communication (10th ed.). Waveland Press.

Mead, G. H. (1934). Mind, self, and society: From the standpoint of a social behaviorist. University of Chicago Press.


PROFIL PENULIS 



















   Salwa Rahadatul Aisy adalah lulusan MAN 1 Dumai, asal Tanjung Palas, Jl. Bangun Sari, dengan latar belakang pendidikan di jurusan Pendidikan Agama Islam. Ia dikenal sebagai pribadi yang tekun dan memiliki minat besar dalam bidang keagamaan serta pendidikan. Setelah menamatkan pendidikan menengahnya, Salwa bertekad melanjutkan studi ke Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pendidik yang berdedikasi dan berakhlak mulia.


Postingan populer dari blog ini

kedahsyatan membaca Al-Qur'an

Ilmu komunikasi