UTS KOMUNIKASI (2) SEM II
NOMOR 2
Komunikasi sebagai Pilar Pendidikan Karakter dan Jati Diri Bangsa
Dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional, mahasiswa diajak untuk merenungi kembali makna komunikasi dalam konteks pendidikan karakter dan pembentukan jati diri bangsa. Komunikasi bukan hanya sarana teknis untuk menyampaikan informasi, melainkan jembatan nilai-nilai yang membentuk pribadi dan masyarakat. Dalam refleksi ini, saya dan kelompok saya mendalami bagaimana komunikasi berperan penting sebagai instrumen utama dalam membangun karakter bangsa yang berakar pada nilai-nilai luhur seperti adab, sopan santun, penghormatan terhadap orang tua, serta semangat kebhinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Makna dari komunikasi dalam konteks ini terletak pada fungsinya sebagai alat pendidikan nilai. Komunikasi adalah proses dua arah yang melibatkan pembentukan dan pertukaran makna yang tidak lepas dari norma, budaya, serta sistem keyakinan yang dianut masyarakat. Ketika seorang guru menyampaikan pesan pendidikan dengan cara yang tepat dan menyentuh hati, maka nilai yang ditanamkan menjadi bagian dari kepribadian peserta didik. Seperti yang dijelaskan oleh Jummaini, komunikasi yang efektif sangat berperan dalam pembentukan pendidikan karakter karena ia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menanamkan nilai secara menyeluruh dan berkelanjutan (Jummaini, 2024).
Hal ini sejalan dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, terutama dalam hal adab dan sopan santun. Komunikasi yang berakar dari budaya Indonesia sarat dengan nilai kesantunan, seperti penggunaan bahasa yang halus kepada orang yang lebih tua, serta penghindaran dari gaya bicara yang kasar atau menyinggung. Dalam perspektif Islam, komunikasi juga diatur oleh prinsip-prinsip moral seperti berkata benar (sidq), menjaga amanah, serta berbicara dengan lemah lembut. Nilai-nilai ini sangat penting dalam membentuk karakter pribadi yang berbudi pekerti luhur, sebagaimana dikemukakan dalam pandangan Islam yang menyebut bahwa komunikasi bukan sekadar ucapan, melainkan cerminan keimanan dan kepribadian seseorang (Kepri Pos, 2025).
Penghormatan terhadap orang tua dan tokoh masyarakat, misalnya, tidak hanya dibentuk melalui perintah tertulis atau ceramah, tetapi melalui komunikasi yang diteladankan dalam interaksi sehari-hari. Saya menyadari hal ini saat mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat di desa tempat tinggal saya. Ketika menyapa warga dengan senyum dan bahasa sopan, mereka menunjukkan penerimaan dan keterbukaan yang lebih besar. Sikap komunikasi yang mencerminkan nilai adab tidak hanya menumbuhkan rasa hormat, tetapi juga memperkuat hubungan sosial yang inklusif.
Kebhinekaan juga memiliki peran penting dalam praktik komunikasi. Dalam kehidupan kampus yang multikultural, saya menemukan bahwa komunikasi menjadi alat utama untuk menjaga toleransi. Berkomunikasi dengan teman yang berbeda suku, agama, dan latar belakang mengajarkan saya untuk mendengarkan, memahami, dan tidak mudah menghakimi. Melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghargai, semangat NKRI menjadi nyata dalam keseharian. Komunikasi yang inklusif dan menjunjung nilai toleransi sangat relevan dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman, dan hal ini perlu terus ditekankan di kalangan generasi muda sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Dalam arus globalisasi yang begitu cepat, generasi muda menghadapi tantangan identitas yang serius. Pengaruh budaya luar melalui media sosial, hiburan digital, dan gaya hidup instan sering kali menggerus nilai-nilai lokal. Dalam konteks ini, komunikasi menjadi alat pertahanan yang sangat penting. Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga simbol identitas nasional. Penggunaan bahasa yang baik dan benar, serta narasi yang membanggakan ke-Indonesiaan, mampu memperkuat rasa kebangsaan. Hal ini ditegaskan dalam artikel Kumparan bahwa bahasa memiliki peran strategis dalam pembentukan identitas nasional, dan harus dirawat dalam komunikasi sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda (Kumparan, 2023).
Pengalaman saya pribadi dalam mengikuti kegiatan organisasi kampus menjadi bukti pentingnya komunikasi dalam menanamkan dan menjaga nilai-nilai tersebut. Dalam setiap rapat, saya belajar bahwa cara menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, dan menyelesaikan konflik dengan kepala dingin, adalah bagian dari pendidikan karakter. Melalui komunikasi, kita belajar bukan hanya untuk mengungkapkan ide, tetapi juga untuk menghormati dan bekerja sama. Interaksi semacam ini sangat penting dalam membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga dewasa secara sosial dan moral.
Akhirnya, komunikasi harus dipahami bukan hanya sebagai alat teknis, tetapi sebagai jantung dari pendidikan karakter dan pembentukan jati diri bangsa. Ketika komunikasi dilakukan dengan adab, sopan santun, dan kesadaran akan keberagaman, ia menjadi kekuatan yang menyatukan dan membentuk generasi yang berkarakter kuat, cinta tanah air, dan mampu berdiri teguh dalam era global yang penuh tantangan. Maka dari itu, membangun kualitas komunikasi di semua lini pendidikan adalah investasi yang paling strategis untuk masa depan bangsa.
DAFTAR PUSTAKA
Jummaini. (2024). Pembentukan pendidikan karakter melalui komunikasi efektif. Proceeding Biology Education Conference: Biology, Science, Environmental, and Learning, 21(1), 154–157. https://jurnal.uns.ac.id/prosbi/article/download/97381/48243
Kepri Pos. (2025, Januari 17). Dasar-dasar komunikasi dalam perspektif Islam dan Barat. KepriPos.id. https://kepripos.id/dasar-dasar-komunikasi-dalam-perspektif-islam-dan-barat/
Kumparan. (2023, November 2). Peran bahasa dalam pembentukan identitas nasional. Kumparan. https://kumparan.com/fathan-ittiba-ussalafy/peran-bahasa-dalam-pembentukan-identitas-nasional-22TfAPrRUtD
PROFIL PENULIS
Salwa Rahadatul Aisy adalah lulusan MAN 1 Dumai, asal Tanjung Palas, Jl. Bangun Sari, dengan latar belakang pendidikan di jurusan Pendidikan Agama Islam. Ia dikenal sebagai pribadi yang tekun dan memiliki minat besar dalam bidang keagamaan serta pendidikan. Setelah menamatkan pendidikan menengahnya, Salwa bertekad melanjutkan studi ke Institut Agama Islam Tafaqquh Fiddin (IAITF) demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pendidik yang berdedikasi dan berakhlak mulia.